Beginilah Al-Qur’an Memandang Hutang !!!

Selain mengajarkan panduan agar hutang-piutang tidak terjebak dalam transaksi riba, syariat juga mengajarkan beberapa adab umum untuk kepentingan keamanan transaksi utang dan menghindari setiap potensi sengketa di belakang. Berikut beberapa adab yang disebutkan dalam al-Quran terkait utang-piutang. Pertama, mencatat transaksi hutang-piutang seperti Firman Allah yang diajarkan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 282 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar”. (QS. al-Baqarah: 282).

Ayat ini berisi perintah untuk mencatat setiap akad hutang-piutang. Bisa hukumnya wajib atau anjuran. Mengingat adanya kebutuhan besar untuk mencatatnya. Karena ketika tidak dicatat, mudah terjadi kesalahan, lupa, sengketa, dan semua dampak buruk lainnya. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 118).

Kedua, adalah dengan menghadirkan saksi. Saksi memiliki peran besar dalam transaksi yang mudah dilupakan pelakunya. Bahkan fungsi catatan hutang adalah sebagai saksi dari transaksi. Ketika Allah menjelaskan tentang adab hutang, Allah mengajarkan agar menghadirkan saksi. Allah berfirman :

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا

Persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil. (QS. al-Baqarah: 282).

Ketiga, adalah dengan adanya barang gadai untuk menjamin keamanan utang. Maka dari itu dianjurkan untuk memberikan gadai. Dan kebiasaan masyarakat, nilai barang gadai lebih besar dari pada nilai utang. Tentang keberadaan gadai, Allah memberikan arahan dalam firman-Nya :

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah secara tidak tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang mengutangi). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.” (QS. al-Baqarah: 283).

Dengan adanya gadai, tanggungan utang akan lebih ringan. Karena itulah, Nabi Muhammad SAW juga pernah memberikan gadai. “baju besi beliau tergadaikan kepada orang yahudi.” Dan tentu saja, nilai baju besi beliau lebih mahal dibandingkan dengan uang yang beliau terima.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan :

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ، بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sementara baju besi beliau tergadaikan kepada orang yahudi untuk jaminan 30 sha’ gandum kasar. (HR. Bukhari 2916 & Ahmad 3471)

Mengingat tujuannya untuk jaminan kepercayaan, akad ini sifatnya tambahan. Bisa ditambahkan di akad apapun. Karena itu, akad ini tidak memberikan konsekuensi terhadap perpindahan kepemilikan barang gadai. Beberapa konsekuensi dari gadai ini adalah, barang gadai statusnya amanah bagi murtahin (yang memberi hutang), barang gadai tetap menjadi milik rahin (yang berutang), jika terjadi kegagalan, misalnya utang bermasalah atau transaksi yang dijamin bermasalah, barang gadai tidak otomatis pindah kepemilikan, semua biaya perawatan barang gadai, ditanggung oleh rahin (yang berhutang), karena ini memang miliknya.

Kita menggaris bawahi, bahwa dalam transaksi gadai, tujuan utamanya hanya untuk jaminan kepercayaan dan keamanan, dan bukan untuk memberi keuntungan bagi pihak yang menerima gadai (murtahin). (ISH)

Leave a Comment