Dekan FEM: A’thi Kulla Dzi Haqqin Haqqahu

Dulu saya mengira bahwa menjadi dosen cukup hanya mengajar saja, menyampaikan mata kuliah apa adanya. Dulu saya juga mengira bahwa mahasiswa adalah orang yang sudah dewasa, sudah tahu harus bagaimana dalam belajar, sudah mengerti untuk menjalani hidup dan perkuliahan. Hingga pada suatu ketika, saya disadarkan bahwa menjadi dosen itu bukan hanya sekedar menjadi pengajar, lebih jauh daripada itu, dosen adalah seorang pendidik.

Hingga pada suatu ketika, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen UNDIA Gontor mengatakan bahwa a’thi kulla dzi haqqin haqqahu, memberikan hak kepada pemiliknya, dengan kata lain membenarkan yang benar, memuji yang patut dipuji dan menyalahkan yang salah, mengecam yang patut dikecam untuk kemudian dijadikan pelajaran untuk memperbaiki sikap dan amal.

Dekan FEM Memberikan Pengarahan Kepada Dosen Saat Review Kurikulum

Menjadi dosen zaman ‘now’ yang memberikan pendidikan kepada para mahasiswanya pada dasarnya mudah dan tidak mudah. Mudah dalam artian dosen mudah saja memberikan teguran kepada mahasiswa saat tidak mengikuti perkuliahan, memberikan nilai rendah saat tidak dapat menjawab soal ujian, menyalahkan segala argumen tanpa referensi, mengecam perilaku buruk mahasiswanya, bahkan mudah saja dosen memuji sesuatu hal yang baik dari mahasiswanya.

Sedangkan tak mudah, adalah ketika penyampaian teguran bahkan pujian kepada mahasiswa, tetapi semua yang disampaikan ‘mental’ begitu saja. Sehingga dalam proses pendidikan, dosen ikhlas dalam mendidik dan mahasiswa ikhlas dididik. Suasana ini menciptakan kehidupan yang harmonis antara dosen dan mahasiswa, dimanapun dan kapanpun.

Kembali ke a’thi kulla dzi haqqin haqqahu, maka seorang dosen memerlukan cara-cara untuk menghadapi mahasiswa secara bijak, karena jenis manusia yang satu ini agaknya berbeda. Diperlukan cara berinteraksi agar mahasiswa dapat terbina dan terdidik supaya menjadi calon sarjana yang berkarakter. Mahasiswa yang tidak hanya pandai mendengarkan dan bertanya tapi yang lebih penting dapat mengevaluasi dengan cara membedakan yang baik dan kurang baik dan mengambil yang terbaik dari persoalan ataupun hal apa pun yang sedang mereka pelajari.

Dekan FEM Memberikan Pengarahan Kepada Mahasiswa

Pesan dosen untuk kalian wahai para mahasiswa, bagaimana mau diterima di lembaga-lembaga multinasional biarpun IPK dan AKPAM tinggi jikalau nulis email saja lupa salam pembuka dan penutup. Bagaimana mau membela kedaulatan bangsa jikalau saat menerima kunjungan mahasiswa asing saja masih tidak bisa ngomong saat diskusi.

Apapun bidang ilmu kalian, akhirnya kalian akan berhubungan dengan manusia yang umur dan latar belakangnya berbeda, belajarlah komunikasi yang baik, belajarlah komunikasi dengan bahasa manusia biasa, bukan bahasa facebook, twitter bahkan instagram. Empat atau lima tahun lagi kalian bisa sekolah S2 bahkan di luar negeri dengan beasiswa. Itupun kalau kalian tidak cuman share story saja sampai lulus nanti. Paham ya nak! (ARMasrifah)

2 Comments

  1. assalamualaikum
    good night for all of moeslim.I have question about this faculty?
    what make deferent this faculty and HES ?
    Because i not understand about it.
    thanks for attention
    good luck in our life
    wassalamualaikum

    1. Alaikumsalam
      Dear Dio Samudra,
      In our campus, we have Sharia Economics Law Department and Islamic Economics Department.
      .
      The mandate of Sharia Economics Law is explaining and discovering laws in economic matters based on core principles, the Holy Quran and teachings of Prophet Muhamad, which is part of Fiqh.
      .
      While Islamic economics’ mandate is to explain their financial merit using experimental and observational data and apply statistical or other suitable methods to create a certain analytical hypothesis. Islamic economics will not have the mandate to suggest modifications to Islamic laws. It will focus on economic assessment, applications, and suitability in solving multiple economic problems. The mandate will also include suggestions for economic policymaking for multiple economic problems within the framework of Islamic values and regulations.
      .
      wallahu ‘alam bishowab

Leave a Comment