Gerakan Nasional Non Tunai; Penunjang Ekonomi Rakyat?

Mufti Afif, Lc., M.A.

GNNT adalah suatu gerakan yang mewujudkan cashless society. Diakui atau tidak, pertumbumbuhan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap e-money semakin meningkat, pasalnya karena alasan kemudahan, keakuratan dan kecepatan transaksi. Peningkatan preferensi masyarakat terhadap transaksi non-tunai ini menjadi indikator kesuksesan Bank Indonesia yang pertama kali mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), di mana gerakan ini mengajak masyarakat agar melakukan transaksi jual beli produk/jasa atau transfer keuangan berbasais teknologi yaitu menggunakan elektronik.

Pertumbuhan preferensi masyarakat tersebut menjadi kabar gembira bagi pihak-pihak tertentu seperti pengusaha pemula dan khususnya pelaku bisnis startup serta pelopor GNNT sendiri yaitu Bank Indonesia.

Pelaku usaha sangat diuntungkan dengan adanyan GNNT, karna disamping memudahkan dalam transaksi pembayaran (harga pas) juga bisa memanfaatkan pemasaran elektronik, dimana pemasaran elektronik lebih hemat biaya operasional, lebih luas jangkauan pasarnya, mudah meningkatkan pangsa pasar (karena mayoritas masyarakat kota dan desa sudah memanfaatkan layanan internet) dan bisa menghindari peredaran uang palsu dari konsumen. Konsumen pun diuntungkan dengan program GNNT ini, mereka bisa belanja lebih efisien, bisa memperoleh informasi lebih lengkap dan mengurangi biaya order, tapi budaya konsumtif mungkin akan sulit ditekan. Bagi Bank Indonesia sendiri diuntungkan dengan program ini, terutama ketika masyarakat (dalam jumlah besar) beli kartu e-money atau melakukan transaksi top up. Pasalnya harga kartu atau biaya top up tidak seimbang dengan nominal uang yang dibayarkan pembeli. Contoh top up kartu e-money Rp. 50.000,- maka pembayarannya Rp. 52.000 atau lebih. Jika 10 juta masyarakat indonesia dalam sehari transaksi top up dan terdapat keuntungan (misalnya) Rp. 2.000-, maka dalam sehari Bank Indonesia akan meraup keuntungan 10 Milyar rupiah, sebuah nilai yang fantastis bagi program kesejahteraan rakyat Indonesia jika dalam sehari menerima profit bersih sebesar itu. Lalu bagaimana jika kentungan dari top up lebih dari Rp. 2.000,-? Dan siapa investor dibalik GNNT tersebut?

Kesuksesan GNNT hingga saat ini ternyata bisa menjadi ancaman bagi program-program pemerintah yang notabene meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Karena GNNT disinyalir akan mempersempit jumlah angkatan kerja manusia Indonesia, setiap transaksi berbasis elektronik akan mengambil alih kegiatan yang biasanya dilakukan secara manual oleh tenaga kerja. Hal ini berakibat pada semakin tingginya tingkat pengangguran di negara berkembang ini. Oleh karena itu pemerintah sejak dini harus mulai memikirkan solusi bagi generasi produktif Indonesia ke depan, agar bisa berperan aktif dalam membangun bangsa. Jangan sampai sistem kapitalis terus menghambat dan bahkan menggerus laju ekonomi rakyat kecil.

Keunggulan GNNT Seperti yang disebutkan di atas memang perlu disambut dengan baik oleh pemerintah khususnya untuk pertumbuhan ekonomi mikro, tapi sebaliknya untuk pemerataan kesejahteraan pada analisis ekonomi makro pemerintah harus mulai mencari solusi terbaiknya.

Plus dan minus sebuah program pasti ada, namun sebagai ekomon muslim harus berani tampil untuk mempertimbangkan aspek maslahah dan mudhorotnya. Ekonom muslim mesti mengwal dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung program pemerintah yang lebih besar maslahahnya (bagi rakyat dan martabat bangsa), bukan hanya sekedar meng”amin”i program yang menguntungkan pribadinya.

Cepat atau lambat, pertumbuhan teknologi akan semakin pesat. Menolak gerakan non tunai, bisa ketinggalan jaman, namun mengikuti pola kerja teknologi juga berbahaya jika tidak diimbangi dengan quality control yang memadai. Pembahasan GNNT ini masih perlu dikaji ulang lebih dalam, kalau bukan generasai ekonomi Islam sekarang yang memikirkan, maka siapa lagi?

*Salam ekonomi Islam, semoga berjaya.

Leave a Comment