APAKAH BEBAS HARUS BRUTAL

Bebas, kata bebas pasti tidak asing lagi ditelinga kita, namun kebanyakan kita tidak mengetahui hakikat kebebasan yang sebenarnya, yang kita pahami kebebasan itu adalah bersenang-senang, jalan-jalan, makan-makan dan bahkan terbebas dari pekerjaan yang membosankan atau bahkan terhindar dari kesialan itu yang memadai patokan semua orang terhadap kebebasan. Maka dari itu, artikel ini akan memahamkan kepada kita apasih bebas itu…?, ayo kita baca sampai tuntas ya.

Tentu berbeda makna kebebasan menurut cara pandang orang barat dengan cara pandang umat  muslim, kebebasan dalam konteks saat ini identik dengan terminologi liberal atau freedom. Makna kebebasan bukan khas islam, melainkan Trade Mark yang datang dari barat atau istilah kebebasan (liberal) ini sudah menjadi barang lama digembor-gemborkan pada masa Napoleon Bonaparte dalam sebuah misinya yaitu menjelajahi benua-benua di dunia. Dalam paham liberal meyakini bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk melakukan segala hal sesuka hati mereka atau bebas tanpa batas, baik dalam hal beragama, bersosial maupun dalam hal berekonomi. Namun apabila di telusuri secara mendalam semu itu berasal dari satu permasalahan yaitu kebebasan dalam berfikir.

Hal ini sangat jauh dari cara pandang islam dalam memandang arti kebebasan yang sebenarnya, karena islam sebagai ideologi memiliki landasan kebebasan yang khas yaitu al-qur’an. Karena al-qur’an merupakan sumber utama cara pandang (Worldview) manusia yang memliki nilai-nilai ketuhanan (kebenaran). Dalam pandangan islam secara terminologi kebebasan memiliki berbagai  makna. Dalam konteks bahasa Arab kata kebebasan berasal dari kata hara. Selain itu makna kebebasan berasal dari empat sudut pandang yaitu yang pertama makna perilaku (al-ma’na al-khuluqy) yaitu sebagaimana diketahui dari tradisi jahiliyyah yang disebut dengan ungkapan “menjaga adab” (al-hurratu). Kedua : makna secara hukum (al-ma’na al-qanuny) yaitu sebagaimana yang diungkapkan dalam al-qur’an surat an-nisa’ : 92 (tariru raqabatin).

Yang ketiga : makna sosial (al-ma’na al-ijtima’iy) yaitu sebagaimana yang digunakan oleh sebagian sejarawan “kebebasan adalah makna ampunan dari satu pukulan”. Keempat : makna tasawuf ( al-ma’na as-sufi) yaitu sebagaimana dikatakan oleh Al-Jurjani, hurriyyah atau kebebasan ialah istilah yang digunakan oleh ahli al-haqiqah dengan makna keluar dari sesuatu yang bersifat kebendaan serta kekafiran.

Dari pengertian tersebut dapat kita ambil pelajaran penting yaitu bahwasanya keempat makna tersebut berlaku pada diri seseorang dengan memperhatikan kebebasan orang lain, bukan kebebasan tanpa batas. Al-Raghib mengatakan bahwa dalam al-qur’an kata “bebas” (al-hurru) memilki dua definisi yaitu : siapa saja yang belum terikat oleh hukum apapun, dan yang kedua yaitu siapa saja yang belum dikuasai oleh  sifat-sifat tercela dan ketamakan serta kejahatan.

Bagi Aristoteles makna kebebasan adalah manusia memiliki kesempatan untuk memilih hal yang lebih baik atau bisa dikatakan juga dengan berkumpulnya antara ‘aql (akal) dengan radah (keinginan). Jadi pada dasarnya istilah kebebasan bermuara pada satu hal utama yaitu sebagai lawan kata dari penghambaan (al-‘ubudiyyah). Islam secara lughawiyyah bermakna “pasrah”, tunduk kepada Allah SWT dan terikat pada hukum-hukum yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Dengan demikian, islam tidak memberikan kebebasan yang mutlak kepada manusia. Tetapi, di samping islam bermakna tunduk kepada Allah SWT, islam juga sebenarnya membebaskan manusia dari belenggu peribadatan (ubudiyyah) kepada manusia atau makhluk lainnya. Maka dapat disimpulkan bahwasanya islam itu “bebas” dan “tidak bebas”. Yang dimaksud disini kebebasan dalam islam adalah kemuliaan jiwa yang mampu mensucikan niat manusia dari ketergantungan kepada selain Allah SWT. Adapun tujuan kebebasan adalah menjadikan manusia tersebut maju dan tinggi derajatnya (kemuliaannya). Nah, diantara kelebihan-kelebihan yang terdapat dari konsep kebebasan dalam islam sebagai berikut:

Pertama : memanusiakan manusia dengan segala hak dan kewajibannya dan jika seseorang itu tidak berilmu maka sebenarnya ruang untuk berkeinginan dan berikhiyar pun semakin menyempit.
Kedua : kebebasan berlaku dalam konteks maslahat umum dan tidak digunakan untuk mendekonstruksi dasar hukum Islam, jadi kebebasan tidak bersifat mutlak. Sebab, kebebasan seseorang itu terikat dengan kebebasan orang lain dan terikat oleh hukum Allah SWT.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa arti kebebasan yang sesungguhnya menurut al-qur’an bermakna positif. Artinya kebebasan merupakan suatu kondisi manusia yang tidak terikat oleh unsur-unsur keburukan, dan cenderung untuk kebahagiaan jasmani dan rohani atau berada dalam kemuliaan (al-karam), sebab manusia yang mulai adalah manusia yang selalu menghambakan Allah SWT dengan kebaikan-kebaikan.

Semoga artikel yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semua amin. Yuwan Ebit / Ed. Puja


Leave a Comment