4 Tradisi Makan Bersama: Buka Puasa FEM Coba Nomor 4

Keluarga Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen mengadakan buka puasa bersama pada hari Ahad, 10 Ramadhan 1441 yang bertepatan pada tanggal 3 Mei 2020 di Lobby Gedung Utama UNIDA Gontor. Acara ini diikuti oleh seluruh dosen FEM bersama keluarga, staf, mahasiswa, bahkan para alumni FEM.

Acara Buka Puasa Keluarga Besar FEM

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Dr. Khoirul Umam, M.Ec., sembari menunggu waktunya berbuka. Buka bersama ini bertujuan untuk mempererat tali silahturahmi antar dosen, staf, alumni dan mahasiswa FEM. Acara ini dilanjutkan dengan sholat maghrib berjama’ah dan diakhiri dengan makan Bersama.

Seluruh Keluarga Besar FEM Berbuka Bersama

Ada yang berbeda pada acara kali ini, acara keluarga besar FEM terkenal unik dengan ragam cara penyajiannya, yaitu setiap yang ikut diwajibkan membawa makanan masing-masing kemudian dinikmati bersama, sehingga ragam kuliner yang disajikan tak terhitung lagi macam dan jumlahnya.

Doa Bersama Sebelum Berbuka Puasa

Tidak seperti biasanya, acara buka bersama kali ini diselenggarakan dengan satu menu bersama. Tradisi makan bersama yang menjadi ritual dalam menjalin keeratan hubungan antar dosen, staf, alumni dan mahasiswa FEM.

Staf dan Alumni FEM Turut Hadir

Tradisi makan bersama ini bukan hanya mengenyangkan tapi juga seru dan jadi ajang silaturahmi. Tradisi ini banyak memiliki nama, lain daerah lain namanya. Kalau di kota kamu, apa ya namanya?

1. Sunda

Masyarakat sunda mengenal makan bersama ini dengan istilah ‘ngariung’. Ngariung adalah bahasa sunda yang artinya berkumpul mengelilingi sesuatu, dalam hal ini adalah makanan. Lauk makanan ini cukup beragam mulai dari nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, tempe, tahu dan yang tak ketinggalan sambal dan lalapan khas masakan sunda. Orang sunda berkasata: “curak-curak, sukan-sukan bari barang dahar ngariung jeung babaturan”.

2. Jawa

Tradisi makan bersama di Jawa, beragam pula namanya, dari bancakan, liwetan, tumpengan, kembulan, dhahar kembul, sego mulhuk dan mungkin masih banyak lagi penamaannya. Tradisi ini dilakukan dengan bersantap bersama di atas lembaran daun pisang. Dalam penyajiannya, nasi akan diletakkan di sepanjang daun pisang, begitu juga dengan sayur-mayur dan lauknya.

3. Ponorogo

Karena penulis berasal dari Jawa Tengah, tetapi sedang tinggal juga di Jawa Timur, tepatnya di Ponorogo, jadi mari kita review, apa nama tradisi ini di Ponorogo. Orang ponorogo menyebut tradisi ini dengan istilah ‘sego brok’. Biasanya tradisi sego brok dilakukan saat ada acara slametan bayi, dalam bahasa jawa timuran yaitu brokohan. Kalau menurut hemat penulis, sego brok maknanya nasi yang diletakkan begitu saja atau di brok-ne dan diberi lauk-pauk gudhangan (kulupan).

4. Pondok Pesantren

Sajian Berbuka Bersama Ala Keluarga Besar FEM

Bagi para santri, tradisi ini terkenal dengan nama tajammu’, aslinya berasal dari bahasa arab jama’a artinya berkumpul. Tajammu’ berarti menikmati makanan secara berkumpul atau acara makan bareng (khususnya makan nasi) di atas alas yang luas, bisa daun pisang, nampan, plastik bahkan majalah atau koran, dan sering dilakukan oleh santri pondok pesantren. Kalau di pondok kami, tradisi ini mubah hukumnya tapi ilegal untuk dilakukan. Jadi tajammu’kum! [masrifah]

Keluarga Dosen Ikut Memeriahkan Acara Buka Puasa Bersama
Staf, Alumni dan Mahasiswa FEM Ikut Buka Puasa Bersama

Leave a Comment