3 Fakta Mahasiswa Semester Lanjut

Secara umum, seorang mahasiswa S1 dapat menyelesaikan studinya dalam jangka waktu normal empat tahun. Namun, ada sebagian kecil mahasiswa yang terpaksa menambah semester untuk menyelesaikan studinya. Tulisan ini mencoba menjabarkan fakta yang dialami oleh mahasiswa semester lanjut berdasarkan pengamatan dan interview serta pengalaman membantu mereka menamatkan studi mereka di kampus ini.

Fakta pertama, mahasiswa semester lanjut adalah mahasiswa yang abnormal. Artinya, mahasiswa model ini dapat dikatakan mahasiswa yang sedang sakit atau memiliki masalah. Masalah yang dihadapi dapat berupa masalah akademis atau non-akademis bahkan keduanya akademis dan non-akademis sekaligus.

Proses Belajar Mengajar di Kelas

Pada aspek akademis, umumnya mahasiswa ini masih memiliki materi yang belum lulus atau kendala dalam pemilihan judul, proses dan bimbingan penulisan skripsi. Solusi dari masalah jenis ini adalah peran aktif dari program studi baik dalam hal mendeteksi potensi masalah atau menghadirkan strategi terbaik dalam membuat program khusus dalam membantu mahasiswa tipe ini. Adapun pada aspek non-akademis, faktor penyebabnya beragam, sehingga solusi yang ditawarkan juga tidak dapat digeneralisir.

Sebagai contoh, ada mahasiswa yang memiliki masalah internal di rumah (broken home), orangtua yang bercerai, masalah ekonomi keluarga, sampai ada juga mahasiswa yang sengaja tidak mau lulus cepat karena masih merasa betah untuk tinggal di kampus.

Masalah-masalah tersebut tentunya ada yang dapat dicarikan solusinya dari level teman, komunitas, asrama, staf pengasuhan ataupun dari dosen pada level prodi dan fakultas. Apabila setiap unsur yang ada dapat saling berkomunikasi dengan baik, tentunya akan dapat bersama-sama membantu memberikan solusi untuk setiap permasalahan yang dihadapi masing-masing mahasiswa.

Oleh karena itu, mengetahui dan mengidentifikasi penyakit/masalah sangat krusial untuk dilakukan dalam rangka meramu obat/solusi yang tepat dan cocok.

Fakta yang selanjutnya adalah semangat yang berkurang. Hal ini berarti bahwa mahasiswa semester lanjut telah mengalami “kegagalan” untuk selesai bersama teman-teman seangkatannya. Kegagalan atau keberhasilan yang tertunda ini, secara langsung ataupun tidak, sangat berpengaruh terhadap psikologi mahasiswa semester lanjut ini.

Semangat dan Keceriaan Mahasiswa Lanjut

Perasaan malu, kurang percaya diri dan merasakan kesendiriaan karena ditinggal teman-teman sekelas yang telah wisuda akan membuat suasana hati menjadi “baper”. Untuk mahasiswa dengan level semangat seperti ini, diperlukan seseorang yang dapat memberikan motivasi secara personal atau individual, serta komunikasi yang soft (pelan-pelan).

Model komunikasi yang lembut sangat signifikan karena mahasiswa model ini memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi (mudah baper). Artinya, metode motivasi yang diperlukan adalah motivasi yang positif, adapun nasihat yang berpola agak menjatuhkan, merendahkan atau bernuansa negatif akan menjadikan mereka lebih tidak bersemangat.

Mengahdirkan Dosen-dosen Fakultas dalam Memotivasi Mahasiswa

Pada intinya, mahasiswa seperti ini membutuhkan nasihat dan motivasi dari seseorang yang dapat menyentuh hati tanpa harus menyakiti perasaan mereka, karena perasaan mereka sudah terluka dan membutuhkan sentuhan untuk penyembuhan.

Fakta terakhir, secara umum perhatian, kontrol dan kegiatan mahasiswa semester lanjut sudah jauh berkurang dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang lebih junior. Artinya, mahasiswa ini lebih banyak waktu kosong yang rawan digoda oleh hal-hal yang bersifat negatif. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kebosanan semester lanjut yang sebagian dilampiaskan dengan aktivitas di luar, main game dan menonton film yang mungkin lebih banyak dampak negatifnya.

Buka Puasa Mingguan Prodi Bersama Dekan Fakultas

Untuk mengatasi hal ini, berbagai kegiatan yang dirancang oleh angkatan, pengasuhan, program studi dan fakultas seperti acara buka puasa rutin, olahraga bersama, karantina penulisan skripsi akan memberikan dampak positif tidak hanya dalam memberikan perhatian dan monitoring kehidupan mereka, namun juga mengurangi penggunaan waktu kosong mereka yang sia-sia dan tak terkontrol.

Selain itu, sesekali mendatangi tempat/kamar/ruang karantina mereka untuk mengecek keberadaan di kampus, khususnya bagi mahasiswa semester atas yang jarang terlihat atau hadir dalam setiap aktivitas.

Sharing Session Bersama Dosen Program Studi

Kesimpulan, mahasiswa semester lanjut termasuk semeter akhir membutuhkan pembinaan khusus dan ekstra, motivasi tambahan dan kegiatan positif untuk mengurangi waktu kosong yang berpotensi merugikan mereka. wallahu’alam. [RoyyanRD]

Leave a Comment